Selasa, 27 Januari 2015

kerajinan Logam



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Membuat barang kerajinan dari logam bukanlah hal baru bagi masyarakat Indoensia. Sebab, sejak dahulu ketika masih berdiri banyak kerajaan pun industri kerajinan logam sudah banyak berkembang di berbagai pelosok tanah air. Beberapa barang kerajinan logam yang sudah ada sejak jaman kerajaan antara lain berbagai peralatan perang (mulai dari keris, pedang, golok, tombak, tameng dan lain-lain), perhiasan dan asesoris kerajaan, alat kesenian (gamelan seperti saron, bonang, gong) dan lain-lain.
Sebagaimana yang kita tahu, kerajinan kriya logam merupakan salah satu dari hasil Usaha Kecil Menengah yang paling diandalkan untuk keperluan ekspor. Kebanyakan kerajinan dipengaruhi oleh heritage yang merupakan warisan budaya dari suatu masyarakat setempat. Misalnya saja kerajinan pisau keris. Meskipun semua daerah memiliki kerajinan kriya logam masing-masing, namun antara kriya logam dari suatu daerah dengan daerah lain memiliki kerajinan kriya logam yang berbeda-beda. Semua in tergantung warisan dari msyarakat setempat terdahulu.
Pada dasarnya, kerajinan logam ini menampilkan karya seni relief dan gambar dengan berbagai motif dan tema yang pada umumnya hampir memiliki kesamaan dengan motif-motif relief lain terutama motif pada seni relief ukir. Sehingga saat ini hasil dari Kerajinan Logam ini di gunakan sebagai ornamen untuk menghiasi suatu tempat atau memperindah suatu ruangan, bukan sekedar untuk peralatan rumah tangga.
Pada umumnya produk hasil logam, baik yang dari tembaga maupun kuningan dibeli oleh hotel untuk mempercantik interior mereka, dan ada pula yang dibeli oleh perorangan maupun diekspor ke luar negeri.
Untuk saat ini, membutuhkan kerja ekstra keras bagi pemerintah maupun pelaku usaha kerajinan ini untuk memperkenalkan hasil produk keajinan ini ke tengah masyarakat. Mengingat kondisi resesi global yang tentunya mempenagruhi permintaan barang sekunder seperti produk kerajinan ini. Yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia yaitu lebih banyak mengadakan event pameran produk andalan seperti yang telah dilakukan di tempat lain untuk mendongkrak permintaan domestik. Kerjasama pemerintah dengan para pengrajin mutlak diperlukan untuk menyelamatkan potensi kerajinan logam yang ada di Indonesia.

B.     Sejarah Kriya Logam


Sejarah kriya logam dimulai pada saat manusia belum mengnal tulisan, tepatnya pada zaman logam yang memunculkan Budaya perundagian atau budaya logam ( logam disini diartikan dengan perunggu, emas dan besi, karena di Indonesia tidak dilewati oleh kebudayaan tembaga) adalah jenis kebudayaan dari masyarakat pra-sejarah yang menggunakan logam dalam pembuatan benda-benda dan seni kriya logam untuk melengkapi kebutuhan hidupnya. Meski benda kriya logam yang dibuat tidak terlalu banyak karena pada saat itu belum terdapat alat dan bahan yang banyak, tetapi hasil karya yang dibuat pada zaman logam tersebut tidak kalah bagusnya dengan seni kriya yang ada pada masa sekarang yang moderen karena seni kriya pada masa tersebut memiliki nilai artistik (seni) dan nilai sejarah yang sangat indah.    Kebudayaan ini diperkirakan mulai berkembang sekitar 500 SM. Contoh peninggalan seni kriya logam pada zaman logam yang dapat kita temui antara lain kapak corong, candrasa, nekara, moko, topeng emas, serta bejana.  


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kriya Logam
Kriya logam adalah seni kerajinan atau keterampilan untuk membuat sesuatu menjadi barang- barang yang memiliki nilai guna dengan menggunakan logam sebagai medianya. Adapun karya yang dihasilkan dapat berupa karya 2 dimensi (lukisan logam), ataupun 3 dimensi (patung logam).
1.      Media Logam, media logam yang biasa digunakan dalam pembuatan karya-karya kriya logam menggunakan media almunium,kuningan, dan tembaga. 
2.      Teknik-teknik, adapun teknik-teknik yang biasa dipakai pada kriya logam yaitu dengan  teknik : Ketok, las, cor, dan patri.

B.     Bahan Dan Alat Pembuatan Kriya Logam
Dalam pembuatan karya seni kriya logam diperlukan alat dan bahan sesuai dengan hasil karya yang diinginkan yaitu karya kriya logam dua dimensi atau karya kriya logam tiga dimensi. Berikut alat dan bahan sesuai dengan karya yang dihasilkan :
a)      Dua dimensi    :
1.      Lembaran bahan logam seperti alumunium, kuningan, tembaga, perak, dsb.
2.      Ballpoint yang sudah tidak terpakai (habis tintanya).
3.      Kertas untuk menggambar sketsa kriya logam yang akan dibuat.

b)      Tiga Dimensi   :
·         Teknik Pencetakan/Pengecoran :
1.      Bahan logam seperti alumunium, kuningan, tembaga, perak, dsb.
2.      Catakan lelehan logam untuk membuat pola/bentuk dasar (dari bahan lilin dan tanah liat).
3.      Tungku pembakaran.
4.      Alat ukir logam.
5.      Alat untuk menghaluskan logam.

·         Teknik Penempaan :
1.      Alat tempa logam seperti palu
2.      tungku pembakaran.
3.      Sarung tangan
4.      Alat untuk menghaluskan logam.


C.    Prosedur Pembuatan Kriya Logam
Prosedur dalam pembuatan kriya logam diperlukan prosedur yang berbeda antara kriya logam dua dimensi dan tiga dimensi tergantung dari hasil seni kriya logam yang diinginkan. Berikut cara/prosedur pembuatan kriya logam :
a)      Dua dimensi    :
1.      Membuat gambar desain pada kertas HVS A4
2.      Gambar desain yang telah jadi ditempel pada permukaan bahan logam yang dipakai misalnya almunium.
3.      Proses pembuatan sketsa pada media kriya logam seperti almunium menggunakan ballpoint bekas, dengan cara menekan mengikuti garis kontur pada desain gambar yang dibuat.
4.      Setelah gambar tersebut terbentuk pada permukaan almunium, kertas dicabut, kemudian pada permukaan almunium bag bawah dialasi dengan anduk kecil / busa , bag. atas ditekan-tekan sehinga objek gambar terbentuk menonjol keluar seperti relief.

b)      Tiga dimensi    :
·         Teknik Pencetakan/Pengecoran :
1.      Siapkan semua alat dan bahan yang akan di butuhkan untuk teknik pencetakan/pengecoran.
2.      Lalu membuat cetakan dasar dari bahan yang tidak mingikat logam sperti lilin yang telah di bentuk sesuai dengan bentuk yang akan di buat lalu cetakan lilin dibungkus/dilumuri tanah liat agar cairan logam tidak keluar dari cetakan lilin.   
3.      Membakar bahan logam (almunium,kuningan, dan tembaga) di dalam tungku pembakaran hingga bahan logam tersebut meleleh.
4.      Setelah bahan logam telah menjadi cair, lalu cairan logam tersebut di tuangkan dalam cetakan dasar yang telah di buat sebelumnya.
5.      Setelah cairan dalam cetakan telah mengeras/padat maka bahan logam tersebut dapat dikeluarkan dari cetakan untuk dikeringkan.
6.      Setelah bahan logam tersebut telah berbentuk seperti bentuk yang diinginkan maka bahan logam tersebut di haluskan agar  bentuk dan permukaanya tampak halus.

·         Teknik Penempaan :
1.      Siapkan semua alat dan bahan yang akan di butuhkan untuk teknik penempaan.
2.      kemudian tentukan bentuk karya yang akan di buat.
3.      Lau  gunakan bahan logam yang sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
4.      Setelah itu masukan bahan logam kedalam tungku pembakaran kemudian lakukan tehkink penempaan yaitu dengan memukul bahan logam yang panas akibat di bakar dalam tungku pembakaran dengan palu sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
5.      Tahap akhir, jika telah selesai lakukan penghalusan pada pada permukaan hasil kriya logam tersebut.
D.    Hasil Karya Pembuatan Kriya Logam

1)      Seni Kerajinan Uang Kepeng

Seni merangkai uang logam dari Bali merupakan salah satu kekayaan seni budaya Nusantara yang sangat khas dan unik. Seni kerajinan uang logam tersebut mulai dari pembuatan uang kepeng sampai seni merangkai uang kepeng menjadi berbagai  bentuk  kerajinan  telah  berlangsung  berabad-abad  lamanya  di  Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar